sajada kita mart

 

Saatnya Untuk Kemandirian Ekonomi Umat Islam di Indonesia

Aksi 212 selain membangkitkan Ukhuwah Islamiyah ternyata juga membangkitkan kesadaran besarnya potensi ekonomi yang berpihak kepada kebutuhan umat islam di Indonesia.

Selama ini sebagai walaupun angka pemeluk agama islam di Indonesia sangat besar bahkan disebut sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia tetapi justru tak berdaya dan diperdaya untuk mengkonsumsi produk-produk dan jasa yang tidak jelas status kehalalannya.

Momentum Aksi 212 yang menjadi salah satu ghatering paling akbar sedunia, memunculkan fakta bahwa ternyata angka masyarakat muslim yang menginginkan pemimpin yang syar'i sangat besar, bagaimana dengan angka masyarakat yang menginkinkan produk atau jasa yang juga syar'i?

Pertanyaan ini lah yang menjadi triger para pejuang ekonomi syariah untuk berjihad daam menggalang, menggiring dan menjaga potensi besar ini ke arah kemandirian ekonomi umat islam di Indonesia agar tidak bisa lagi dipaksa mengkonsumsi produk atau jasa yang haram.

 

Jerat Produk Haram

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa banyak sekali produk-produk sebenarnya sangat terlarang untuk konsumen muslim tetapi tersusun menarik di rak-rak toko waralaba, gerai- gerai mall hingga di warung tetangga kita tanpa ada warning (peringatan) yang membuat kita mudah mengenalinya.

Ada kandungan babi, tidak hanya pada makanan, tetapi terdapat pula pada kosmetik, produk medis, fashion, bahkan hingga kuas. Penggunaan alkohol sebagai bahan campuran kue, material sutera untuk kebutuhan fashion laki-laki dan sebagainya.


Didalam tubuh kita sudah terkontaminasi produk-produk haram. Padahal mengkonsumsi produk haram tersebut adalah sangat berbahaya. Selain karena menjadi dosa, hal ini juga membuat doa tidak terkabul dan tercabutnya keberkahan.

Mungkin banyak dari kita yang menganggap sebelah mata masalah ini, Hal ini lah yang menyebabkan kita bekerja habis-habisan, menguras banyak waktu, tenaga dan pikiran tetapi kita tetap kepayahan dalam keuangan, karena Allah tidak ridho dengan apa yang kita konsumsi.

 

Jerat Riba

Belum lagi penggunaan jasa keuangan non syariah seperti Bank, asuransi, pasar modal dan sebagainya. Semua ini sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari yang padahal beragama Islam.

Selama tidak ada keinginan kuat dari umat Islam untuk hijrah massal menggunakan jasa keuangan syariah, maka jasa keuangan syariah tidak akan bisa tumbuh sebesar jasa keuangan konvensional yang syarat riba.

Alasan kita yang tidak memilih menggunakan jasa keuangan syariah adalah lebih mahal, misal dalam masalah kredit kepemilikkan rumah (KPR), menggunakan jasa keuangan syariah seringkali membuat cicilannya menjadi lebih berat jika dibandingkan bank konvensional.

Misal, jika kita memiliki pendapatan Rp 5 juta dan memiliki kemampuan mencicil rumah sebesar Rp 3 juta, Menurut logika kapitalis, pilihan cicilan Rp. 2 juta perbulan pada bank konvensional tentunya lebih menarik daripada cicilan Rp. 3 juta pada bank syariah.

Padahal dari sudut pandang logika spiritual, pilihan menggunakan riba akan membuat rezeki kita mandeg, bisa saja di tengah jalan kita terkena PHK, rumah bermasalah dan sebagainya, sementara jika kita kita berusaha menjalankan cara yang Insya Allah mendapat Ridho dari Sang Maha Pemberi Rezeki, tentunya kita bisa berharap Allah akan memberikan rezeki yang lebih banyak lagi kepada kita sehingga semuanya menjadi ringan.


Kita Mart

Kita Mart merupakan usaha bersama berbadan koperasi (Koperasi Syariah 212) yang bermula dengan membuat jaringan toko waralaba dari, oleh dan untuk umat. ini merupakan langkah nyata dari ikhtiar untuk berjihad daam menggalang, menggiring dan menjaga potensi besar ini ke arah kemandirian ekonomi umat islam di Indonesia agar tidak bisa lagi dipaksa mengkonsumsi produk atau jasa yang haram.

Tidak main-main, terdapat MUI, dua ormas Islam terbesar di Indonesia (Nahdathul Ulama dan Muhammadiyah) dan nama besar praktisi sekaligus akademisi ekonomi berbasis syariah (Muhammad Syafii Antonio- Ketua Koperasi Syariah 212), para ustad yang dikenal luas (Bachtiar Nasir, Abdullah Gymnastiar, Arifin Ilham, Valentino Dinsi dsb) di Indonesia yang mendukung ikhtiar ini.

Tidak hanya mentargetkan 200 gerai retail, Koperasi Syariah 212 juga mencanangkan akan mengembangkan bisnis properti. Koperasi syariah bekerja sama dengan pengembang di Depok, Grand Zamzam, akan mengembangkan satu menara apartemen berkapasitas 300 kamar.

Kedepannya Koperasi Syariah 212 juga berencana untuk membuat reksa dana syariah yang berbasis pengolahan dana dari para anggota koperasi.

Wakil Ketua Koperasi Syariah 212, Valentino Dinsi mengatakan, banyak masyarakat yang menanyakan ke mana uang koperasi nantinya akan digunakan. Menurut beliau, dana koperasi yang terkumpul saat ini sudah ada sekitar Rp 10,5 miliar.Dana ini akan digunakan di tiga bidang ekonomi diatas (Retail waralaba, Properti dan Reksadana), sehingga ekonomi umat juga turut berkembang dari tahun ke tahun.

Lalu, kepemilikan Kita Mart sebagian besar merpupakan komunitas, kolektif, dan produk-produk umat pun sudah bisa masuk ke sana. Menurut Valentino, perbedaan lain Kita Mart yaitu cara memiliki yang tergolong mudah, serta bisnis berbasis komunitas yang bisa dimiliki lebih dari satu orang.

Dana yang dibutuhkan untuk bisa memiliki Kita Mart dibagi menjadi tiga tipe. Tipe A Rp 175 juta, tipe B Rp 300 juta, dan tipe C yang paling besar Rp 400 juta.

Menurut Valentino Dinsi, Pertama, Tantangan terbesar dari umat ini adalah bagaimana Indonesia pada khususnya bisa mencukupi kebutuhan dan mampu membangun brand, juga bagaimana kita bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Harapannya, biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk impor bisa berpindah menjadi digunakan untuk produk nasional. Sangat indah, jika produk asing sedikit. Indahnya, kalau produk Indonesia ada di Jepang, China Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan sebagainya

Yang kedua, bagaimana kita bisa berhijrah dari penguasaan terwaralaba yang dominasinya person, lalu menjadi dominasinya berjamaah, sehingga banyak orang terlibat di sana.

Demikian juga dominasi, bagaimana dari sistemnya yang franchising menjadi kemitraan, atau sistem syirkah. Bagaimana kita selama ini menggandrungi buah impor, bisa berubah menjadi buah lokal. Bagaimana dari sistem pembiayaan yang ribawi berhijrah ke sistem pembiayaan yang berbagi hasil.


Mudah-mudahan ini menjadi bibit awal terciptanya kemandirian ekonomi Islam di Indonesia..

 

 

SAJADA Media Islam Inspiratif

 


TRANSLATE

Indonesian English French German Italian Portuguese Russian Spanish