Merangkul Generasi Online Mengenal Agamanya

 

Media Online saat ini menjadi samudera informasi yang menyimpan berbagai hal baik positif maupun negatif. Hanya tinggal mengetik kata atau kalimat yang kita ingin tahu pada mesin pencari (search engine), maka ratusan situs yang berkaitan akan ditawarkan untuk kita akses.

Tentunya mesin pencari tersebut tidak peduli, mana yang berisi fakta, mana yang menyesatkan. Mana yang penting, mana yang tidak penting. Sehingga kita harus memiliki filter sendiri, mana yang benar-benar kita butuhkan.

Salah satu sisi positifnya adalah kita sudah tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada media-media korporasi besar seperti televisi, radio dan cetak  yang membatasi informasi sesuai dengan pola pikir pemodal dan pemerintah yang seringkali tidak objektif.

Seseorang yang mempunyai informasi akurat atau pemikiran yang bagus, bisa langsung menulis artikel, membuat video dan sebagainya untuk dibagikan ke masyarakat luas dengan perangkat seadanya melalui media online.

Tetapi ini juga menjadi sisi negatif karena bisa juga seseorang yang tidak kompeten atau seseorang yang memiliki niat buruk mengedarkan informasi kepada masyarakat luas.

 

Menelisik Data Seputar Dunia Onlne

Menurut Survei Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) Pada tahun 2017, diperkirakan dari sekitar 256,2 juta jiwa penduduk Indonesia, separuhnya yaitu sekitar 132,7 juta jiwa adalah pengguna internet.

 

Siapa Yang Menggunakan?

Dari seluruh usia, generasi muda merupakan usia pemakai terbesar, yaitu usia 20-24 tahun (22,3 juta jiwa), 25-29 tahun (24 juta jiwa) dan 30-14 (20 juta jiwa)

 

Apa Perangkat Yang Dipakai?

Sebagaimana yang kita sering saksikan, bahwa perangkat Mobile (smartphone) sudah hampir dimiliki semua orang, mulai dari generasi muda, dewasa bahkan anak-anak dan ternyata perangkat Mobile (smartphone) merupakan perangkat terbanyak yang digunakan dalam mengakses internet.(69 %)

 

Apa Yang Dicari?

1. 129,2 juta jiwa mengakses situs/aplikasi perangkat Sosial Media.
2. 128,4 juta jiwa mengakses situs hiburan.
3. Dan sebagainya.

 

Dimana Mereka Berada?

1. Facebook, dengan 71,6 juta pengguna.
2. Instagram, dengan 19,9 juta penggguna.
3. YouTube, dengan 14,5 juta pengguna.

Data-data ini menunjukkan bahwa Media Online (apa pun bentuknya) sudah berada digenggaman lebih dari separuh masyarakat Indonesia dan akan terus bertambah. Generasi muda adalah pemakai terbanyak, terutama untuk keperluan bersosialisasi melalui perangkat media sosial.

 

Ada Ancaman Bahaya 

Kali ini kita tidak sedang bicara masalah situs atau perangkat online lainnya  dengan konten yang sudah jelas berbahaya, misalkan seperti website porno. Tetapi kita akan berbicara ancaman bahaya dari situs atau perangkat online lainnya yang sepertinya tidak punya ancaman bahaya, bahkan kita pun juga menggunakan, yaitu sosial media.

 

Generasi Muda Era Televisi VS Generasi Muda Online

Generasi Muda Era Televisi saat ini pastinya sudah tidak muda. Mereka kini sudah menjadi pejabat pemerintahan, Politikus, Artis Senior, Pengusaha sukses dan sebagainya atau setidaknya menjadi seorang ayah atau ibu.

Mari kita lihat kondisi generasi yang dicetak pada era televisi, terutama mengenai ahlak dan pemahamannya terhadap agama Islam.

Saat ini, Indonesia memang negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tetapi dari jumlah yang sangat besar itu, kita harus merasa miris dengan Islamnya Orang Indonesia.

Semoga bukan ini yang dimaksud dengan Islam Nusantara, Islam yang lekat dengan budaya, yaitu budaya minum alkohol, budaya mengkonsumsi narkoba, budaya mendatangi tempat prostitusi, budaya setengah telanjang di mall, kantor-kantor, bahkan hampir telanjang saat di tempat silaturahmi malam (club) dan saat liburan di Pulau minoritas muslim yang katanya agamis, lekat dengan budaya LGBT, lekat dengan budaya seks bebas dan sebagainya. 

Sehingga tak heran jika ada sekelompok ormas Islam yang mengganggu kenyamanan mereka berislam yang lekat dengan budaya dalam tanda petik tadi, maka kelompok ormas Islam tersebut dianggap sebagai kelompok radikal yang intoleran. Generasi produk era Televisi ini pun sudah terkontaminasi oleh pemikiran akibat informasi yang mereka terima melalui media yang di modali, diawaki dan di kontrol oleh generasi pecinta Alkohol, Seks Bebas, Nudisme, LGBT dan sebagainya. 

Ini sangat mengerikan, muslim Indonesia yang lekat dengan budaya (atau bertoleransi dengan) Alkohol, Seks Bebas, Nudisme, LGBT dan sebagai ini adalah produk generasi era televisi yang sudah tidak tahu, mana yang harus dilawan dan mana yang harus dilindungi.

Jika produk generasi era televisi saja sudah demikian mengerikan, bayangkan kengerian yang akan ditanggung oleh generasi online!

Sehebat-hebatnya TV mempertontonkan Alkohol, Seks Bebas, Nudisme, LGBT dan sebagai, masih ada lembaga sensor, KPI dan lain-lain.

Sehebat-hebatnya TV, TV tidak bisa dibawa dalam genggaman, terletak di ruang keluarga atau setidaknya layarnya masih sulit disembunyikan.

Sementara media online dalam smartphone ada didalam genggaman anak-anak kita (generasi online), kontennya bisa dibuat siapa saja (tak harus punya budget besar, tanpa ancaman institusinya ditutup) bebas menyampaikan apa saja, tanpa sensor, tanpa kontrol dari lembaga negara dan sebagainya. Bisa di akses dimana saja dan kapan saja.

Jika Generasi era TV saat ini saja banyak yang alergi terhadap agama dan permisif terhadap Seks Bebas, Nudisme, LGBT dan sebagai, bagaimana nasib Generasi era Online nanti? 

 

Para Ahli Tafsir Yang Tak Mengenal Huruf

Betapa jauhnya generasi era televisi dari pemahaman agama dan ini terbukti saat kejadian yang pilkada Jakarta. Dikala Ulama menyampaikan ayat Al Qur'an tentang larangan memilih pemimpin non muslim, ternyata reaksi keras bukan saja muncul dari masyarakat non muslim, tetapi juga sama kerasnya dari masyarakat yang beraga Islam sendiri.

Semoga Islam Nusantara yang dimaksud juga bukan Islam yang seperti ini. yaitu jangankan membaca dengan tartil, memahami arti dan mengamalkan kandungan Al Qur'an, bahkan mengenal huruf hijaiyah saja tidak.

Dan yang lebih hebat lagi, mereka yang bahkan tidak kenal huruf tadi merasa lebih paham akan kandungan Al Qur'an. Kemudian menyebarkan pemikirannya ke berbagai media sosial.

Lihatlah bagaimana para "ahli tafsir yang tidak mengenal huruf" tadi memaknai toleransi dengan pemahamannya sendiri padahal sebagai orang yang mengaku Islam, kita punya referensi Al Qur'an.

 

قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْكَٰفِرُونَ ﴿١﴾ لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ ﴿

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."


(QS. Al-Kaafiruun : 1-6)

 

Dalam ayat-ayat ini, makna toleransi adalah menjalankan urusan agama masing-masing.

Sementara keinginan para ahli tafsir yang tidak mengenal huruf tadi, adalah : 

  • Jangan terlalu kaku memahami agama, sehingga kita boleh mengucapkan, menggunakan simbol bahkan menghadiri hal-hal yang berkaitan dengan agama mereka.
  • Jangan terlalu eksklusif dalam beragama, sehingga kita sebaiknya merasa risih dalam menonjolkan simbol dan atribut keislaman kita seperti, memakai jilbab untuk wanita, memanjangkan jenggot untuk pria dan sebagainya.
  • Jangan terlalu saklek menjalankan agama, sehingga kita boleh melanggar perintah agama seperti memakan babi, minum alkohol hingga memilih pemimpin kafir dan sebagainya.

Inilah toleransi yang mereka anggap ideal yaitu toleransi yang tidak berlandaskan Al Qur'an. Padahal menjalankan urusan agama masing-masing itu dilindungi Undang-undang di Indonesia.

Anehnya, saat kita justru sama sekali tidak mengurusi masalah agama lain dan sedang mengurusi umatnya sendiri untuk menjalankan agamanya, malah dianggap intoleran.

Sebaliknya saat ada seorang non muslim yang mencampuri (bahkan menghina) urusan agama kita saat berlaga di Pilkada Jakarta, malah dibela habis-habisan oleh sebagian orang yang mengaku Islam tersebut.

Mereka bicara agama Islam tetapi tanpa mau mengambil referensi Al Qur'an, entah Islam apa yang sedang dibicarakan? Semoga bukan ini yang dimaksud dengan Islam Nusantara. 

Jangankan mencari dan ingin dekat dengan ulama, melihat ulama yang menonjolkan identitas keislamannya saja sudah merasa risih dan alergi lalu dbilang ke arab-araban. Saat mendengar ulama bicara, telinga menjadi panas bahkan ada yang menyebut ulama sebagai peramal masa depan. Lalu mau kenal Islam dari mana? 

 

Jika bicara Islam tetapi menggunakan refensi Al Qur'an, seharusnya tidak ada pernyataan-pernyataan yang sebenarnya menunjukkan kekosongannya sendiri (lucunya diapresiasi pula oleh sesamanya), seperti :

 

1. (Mereka Yang Katanya Muslim Berkata)  :

"Semua agama benar" atau

"Tuhan kita universal, yang kita sebut masing-masing, agama beda-beda istilahnya tapi zat nya sama, La hawla Wa la (?)" (penggalan perkataan salah seorang pejabat)

 

(Tapi mereka belum atau tidak mau tahu)

Allah Berfirman : 

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam”
(QS. Ali Imran: 19) 

 

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.

(QS Almaidah: 72)

 

Entah darimana tokoh (yang sering mengucapkan La hawla Wa la (?)) tersebut mengambil refernsi atas apa yang dia ucapkan. 

 

 

2. (Mereka Yang Katanya Muslim Berkata)  :

"Ada ibu-ibu yang bilang 'kenapa milih kafir?' Menurut saya, itu merendahkan agamanya sendiri apapun agamanya. Aneh saya, padahal saya bukan ahli Al Quran. Kalau saya ngomong ayat-ayat nanti kena lagi saya penistaan agama seperti Pak Ahok. Sudah itu urusan kyai, saya urusan politik dan pemerintahan saja,"

 

(Tapi mereka belum atau tidak mau tahu)

Allah Berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang- orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

(Almaidah : 51)

Entah kenapa menjalankan perintah agama disebut merendahkan agamanya sendiri?

 

 

3. (Mereka Yang Katanya Muslim Berkata)  :

"Syarat mutlak hidupnya ideologi tertutup, adalah lahirnya aturan-aturan hingga dilarangnya pemikiran kritis. Mereka menghendaki keseragaman dalam berpikir dan bertindak dengan memaksakan kehendaknya. Akibatnya, pemahaman terhadap agama dan keyakinan sebagai bentuk kesosialan pun dihancurkan, bahkan dimusnahkan. Selain itu, demokrasi dan keberagaman dalam ideologi tertutup tidak ditolelir karena kepatuhan total masyarakat menjadi tujuan."

 

(Tapi mereka belum atau tidak mau tahu)

Allah Berfirman :

وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang beriman“.

(Al Anfal:1)

 

ا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚقَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚفَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“...Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa adzab yang pedih.”
(an-Nuur: 63)

 

4. (Mereka Yang Katanya Muslim Berkata)  :

"Para penganut ideologi tertutup kerap meramal kehidupan setelah dunia fana"

(Tapi mereka belum atau tidak mau tahu)

Allah Berfirman : 

ﺛُﻢَّ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺗُﺒْﻌَﺜُﻮﻥَ

Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.

(QS. Al Mu'minun: 16)

Dan sangat banyak dalil-dalil mengenai kehidupan setelah kematian. Ini bukan ramalan ulama, tetapi Allah sendiri yang berfirman, seandainya tokoh tersebut mau belajar tentang agama Islam. 

 

 

Betapa mirisnya, Tulisan, Video dari mereka yang mungkin belum sempat belajar agama (tetapi merasa lebih cerdas dari ulama) atau sudah belajar agama tapi hatinya telah terkunci  beredar dimana-mana di sosial media dan disambut ribuan jempol, komentar dukungan dan segala apresiasi.

Ini merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh para ulama dan didukung oleh kita semua (terutama pelaku media), bahwa jika pada saat era televisi saja, serbuan pengaruh pemikiran yang jauh dari agama sudah sedemikian menjauhkan umat dari agamanya, apalagi generasi muda era media online yang lebih sulit lagi mengkontrolnya.

Jika sulit melakukan kontrol, mungkin artinya kita (sebagai media) harus memberikan balance (penyeimbang), yaitu mengupayakan generasi muda kita lebih memilih informasi-informasi yang bermanfaat bagi pengetahuan agamanya.

Mencari cara  untuk membuat konten agama semenarik konten-konten (yang padahal menyesatkan mereka) yang biasa mereka akses. Ini adalah ladang jihad kita.

 

 

Wallahu a’lam bish-shawab

SAJADA Media Islam Inspiratif 


 

BERITA

Jika Islam adalah Sebuah Brand

 

Jika Islam adalah sebuah Brand, maka pendakwah adalah pemegang peranan fungsi Marketing dan Public Relation. Bila terjadi pergeseran persepsi, maka saatnya kita koreksi diri dan kembali kepada value dan cara memasarkan (dakwah) seperti yang diajarkan Rasulullah. 

Musa, Penghafal AlQur'an Termuda Musabaqoh Hifzil Quran Internasional

 

Musa merupakan peserta termuda, yaitu berusia tujuh tahun dimana peserta lainnya berusia diatas sepuluh tahun dalam Musabaqoh Hifzil Quran Internasional kategori 30 juz untuk anak-anak di Sharm El-Sheikh, Mesir.

Fatwa MUI Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial

 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial. Fatwa ini mengatur banyak hal, mulai dari cara membuat postingan media sosial cara memverifikasi hingga buzzer.

Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque), Turki

 

Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque), TurkiMasjid Sultan Ahmed (Sultan Ahmed Camii) atau Masjid Biru (Blue Mosque) adalah sebuah masjid bersejarah yang terletak di Istanbul, Turki. Sebuah situs wisata populer di Turki. 

Jangan Menunggu Ekonomi Syariah Dikuasai Non Muslim

 

Tak cuma negara-negara berpenduduk muslim, perkembangan ekonomi syariah, rupanya juga menjamur di negara-negara Eropa. Ini terjadi saat krisis global. Tidak ada satu pun sektor yang bisa menghindari krisis global, akan tetapi keuangan syariah menunjukan ketahanan yang sangat luar biasa. Hal ini pun memicu ketertarikan negara Barat lainnya terhadap konsep ekonomi Islam, seperti Perancis, Jerman, dan Italia yang pada akhirnya juga mengadopsi sistem ini.

TAUSIAH

Muhammad Rizieq Shihab

 

Muhammad Rizieq Shihab Habib Rizieq meneruskan studinya di Universitas Raja Saud, Arab Saudi, yang diselesaikan dalam waktu empat tahun dengan predikat cum-laude.

Berbeda Tetapi Tetap Sayang

 

Sungguh walau kami berdua berbeda faham, tetapi beliau mau hadir untuk memberi tausiyah walau tidak ikut zikir bersama. Beliau tidak berqunut, tetapi saat sholat subuh di mesjid Az Zikra disamping abang, beliau ikut berqunut.

Bachtiar Nasir

 

Ustadz Bachtiar Nasir, Lc. MM, adalah seorang Da’i dan Ulama’ yang sangat sering mengkaji dan mendalami Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Ia juga tercatat pernah menjadi Pengurus Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Doa Sebelum Makan & Sesudah Makan

 

Allahuma Baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa 'adzaa bannaar.


Alhamdulillahilladzii ath'amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa muslimin.

Mereka Yang Didoakan Oleh Para Malaikat

 

Malaikat pun senantiasa mendoakan manusia, sehingga atas kedudukannya yang mulia, tentunya kita pun berharap menjadi termasuk manusia yang didoakan oleh para malaikat.

BELAJAR ISLAM

KH. Hasyim Asy'ari

 

Hasyim Asy'arie kemudian memutuskan untuk kembali ke Mekkah dan menetap di sana selama kurang lebih tujuh tahun. Di Mekkah beliau banyak berguru ke ulama-ulama besar baik dari Mekkah sendiri maupun ulama Indonesia. 

Rukun Islam

Rukun adalah hal-hal yang disyaratkan atau harus dipenuhi, jadi Rukun Islam adalah hal-hal yang disyaratkan atau harus dipenuhi untuk menjadi seorang muslim atau muslimat.

Cara, Urutan, Bacaan Dan Gerakan Sholat

 

Berikut Urutan, Bacaan dan Gerakan Sholat dengan panduan urutan Berdasarkan urutan 13 Rukun Sholat dan Hal-Hal Sunah yang menyertainya 

Sumber Ilmu Fiqih

Sumber fiqih adalah dalil-dalil yang dijadikan oleh syariat sebagai hujjah dalam pengambilan hukum. Dalil-dalil ini sebagian disepakati oleh ulama sebagai sumber hukum, seperti Al Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Sebagian besar ulama juga menetapkan Qiyas sebagai sumber hukum ke empat setelah tiga sumber di atas

Pembagian Hukum Fiqih Ibadah

Ibadat dalam ilmu fiqih terbagi atas 5 bab, yaitu Thaharah, sholat, puasa, zakat dan haji