sajada maut

 

Karena Maut Tak Menanti Kesiapan 

Pernahkah terbayang, jika kita berada di lokasi ketinggian gunung yang biasa disinggahi oleh para pecinta alam tanpa membawa bekal persiapan apapun?

Tanpa tenda, pakaian penghangat, bekal makanan, Pengetahuan, pengalaman, teman seperjalanan bahkan kondisi fisik yang siap.

 


Pernahkah terbayang, jika kita berada di lokasi ketinggian gunung yang biasa disinggahi oleh para pecinta alam tanpa membawa bekal persiapan apapun?

Tanpa tenda, pakaian penghangat, bekal makanan, Pengetahuan, pengalaman, teman seperjalanan bahkan kondisi fisik yang siap.

 

Sementara sebagaimana yang kita tahu, umumnya gunung yang tinggi memiliki kondisi alam yang tidak biasa bahkan cenderung ekstrim dimana kita akan berhadapan dengan suhu yang luar biasa dingin, curah hujan yang lebih sering, binatang-binatang liar hingga serangga yang tidak kita sangka-sangka yang bisa saja menyerang, belum lagi rasa lapar,letih dan tekanan psikologis bagi kita yang memang tidak memiliki skill survival.

 

Tak hanya gunung, terbayangkah bagaimana kita akan bertahan jika tiba-tiba kita berada dilokasi ekstrim yang kita tidak sangka tiba-tiba kita harus mengalaminya.

 

Seperti, berhari-hari kita terapung ditengah-tengah luasnya samudra saat kapal yang kita tumpangi tenggelam. Terperangkap pengap dan gelapnya gua-gua dalam tanah

 

Tersesat diluasnya gurun pasir dengan terik matarhari yang bagai memanggang tubuh kita?

Sendirian, tanpa teman, tanpa bekal, tanpa harapan kapan akan datang pertolongan.

 

Tak seorang pun dari kita menginginkan berada ditempat-tempat tersebut tanpa adanya persiapan. Mudah-mudahan kita tidak kan berada di tempat-tempat seperti itu apalagi tanpa ersiapan.

 

Tetapi sebenarnya tempat-tempat dan kondisi ekstrim diatas “TIDAKLAH SEBERAPA” jika dibandingkan tempat-tempat yang ‘PASTI” akan kita datangi.

Yaitu tempat-tempat yang akan menjadi alam (tempat domisili) kita setelah ajal menjemput.

Dimana tidak seorang pun dari kita yang dapat menghindari kematian dan dipastikan akan meneruskan hidup setelah mati, pada episode alam-alam yang dijanjikan Allah.

Bahkan tak seorang pun tahu, kapan waktu pasti dari setiap kita kapan diberangkatkan, sebagaimana firman Allah,

 

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” (al-Ankabut:57)

 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

 

Pernahkah terlintas dalam pikiran kita seperti apa, kita nanti di Alam Kubur, Mahsyar hingga menuju Syurga atau Neraka? Sudahkan kita melakukan persiapan bekal untuk menuju tempat-tempat tersebut? 

Abu Hurairah bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila seseorang itu meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara, sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang soleh mendoakan untuknya.

 

MILIKILAH BEKAL YANG BANYAK DAN BERGUNA

 

…..وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَا

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. (QS. Al Baqarah : 197)

 

Walau sangat tidak sebanding, kita coba bayangkan manakah yang lebih penting saat kita tersesat ditengah tengah hutan tropis yang tak tersentuh manusia?

“Skill dan peralatan survival” atau “uang dan Kartu ATM” didompet?

 

Seperti itulah gambaran sederhana mengenai fungsi hal-hal yang kita habis-habisan kejar hampir 24 jam sepanjang usia kita seperti titel akademis, status level sosial, kekuatan finansial, kekuasan dan sebagainya.

 

Ternyata saat Malaikat Maut nampak oleh mata kita, cuma amal sholeh yang bisa dijadikan bekal untuk hidup setelah mati.

 

Tumpukan aset (tanpa niat dan tanpa digunakan untuk menunjang amal sholeh) yang kita punya bahkan selain tidak berguna, cuma jadi rebutan anak-anak kandung yang miskin iman,

Akan memperberat, memperbanyak pertanyaan saat proses audit atau interogasi tentang harta di alam kubur dan di alam-alam selanjutnya.

 

Kendaraan mu yang banyak itu, kau beli dengan uang dari mana? (semoga dari uang yang halal)

Kau bayar dengan cara bagaimana? (semoga tidak dengan cara riba)

Untuk yang kau pakai, Kau gunakan kemana saja? (semoga ke tempat-tempat yang diridhio Allah)

Untuk yang tak kau pakai, kenapa kau beli? (Semoga memiliki manfaat yang diridhoi Allah)

dan sebagainya, ini hanyalah ilustrasi pertanyaan (Wallahu a’lam bish-shawabi)

 

Bagi kita yang tak pernah mau ambil pusing tentang perbekalan akhirat, mungkin nantinya akan seperti manusia yang terperangkap ditempat-tempat ekstrim tadi, yang tanpa bekal apapun.

 

Bagai manusia tanpa pakaian di gunung bersalju,
Bagai manusia tanpa air di tengah gurun,
Bagai manusia tanpa pelampung ditengah lautan samudera.

 

يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalil) untuk hidupku ini.” (Qs. Al Fajr: 24)

 

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠)

“Hingga apabila telah datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku
tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al Mukminun:
99-100)

 

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah
melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. (Qs. As Sajdah : 12)

 

Semoga kita bisa menjadi manusia yang sebanyak-banyaknya mengerjakan amal shalih.

 

Yang tidak membiarkan waktu terbuang saat macet dijalanan kecuali sambil melafazkan Dzikir.

 

Yang tidak pernah lupa menanamkan niat bahwa mencari rezeki yang banyak itu bukan untuk urusan perut, tetapi agar bisa berzakat, bersedakah, menyekolahkan anak ditempat yang baik dan menanamkan nilai-nilai islam, agar bisa membeli makanan halal yang membuat kita kuat memperbanyak sholat, agar bisa berhaji, agar bisa menyekolahkan anak-anak yatim, agar bisa memodali fakir miskin untuk bisa mencari nafkah.

 

Yang ingin memiliki perusahaan sendiri dengan niat agar bisa punya waktu lebih banyak di masjid, bisa berdakwah kepada karyawan-karyawan sendir dan menetapkan kebijakan-kebijakan perusahaan yang diridhoi Allah.

 

Wallahu a’lam bish-shawab

SAJADA Media Islam Inspiratif

 


TRANSLATE

Indonesian English French German Italian Portuguese Russian Spanish