sajada sholat fardhu

 

Cara Urutan, Bacaan Dan Gerakan Sholat

Berikut Urutan, Bacaan dan Gerakan Sholat dengan panduan urutan Berdasarkan urutan 13 Rukun Sholat dan Hal-Hal Sunah yang menyertainya,

 

1. Niat

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.”


Ada beberapa tata cara dalam berniat.

Mazhab Imam Abu Hanifah, Melafadzkan niat sunnah hukumnya untuk membantu kesempurnaan niat di dalam hati.

Mazhab Imam Malik bin Anas (Maliki), Niat shalat adalah syarat sah di dalam shalat, sebaiknya niat tidak dilafadzkan kecuali ragu.

Mazhab Syafi'i, Sunnah melafadzkan niat menjelang takbiratul ihram dan wajib menentukan jenis shalat yang dilakukan.

Mazhab Hanbali, Sunnah melafadzkan niat dengan lisan.


(bacaan niat sholat fardhu 5 waktu)

Lafaz niat sebelum takbiratul ikhram (jika dibaca) menurut para ulama hanya untuk membantu mengkuatkan kesempurnaan niat (menuntun dan menghadirkan hati) tetapi belum masuk kepada niat yang menjadi syarat sah dan rukun sholat, karena sholat itu diawali dengan takbir dan diakhiri sengan salam.

Niat yang menjadi syarat sah dan rukun sholat ditetapkan dalam hati pada saat mengucapkan takbir saat takbiratul ikhram yaitu dengan menetapkan point-point : saya berniat sholat, jenis kewajiban sholat (fardhu atau sunah) dan nama jenis sholat (Maghrib, Isya, Dhuha, Tahajud dsb).

(Syarat Sah shalat)

(Rukun Shalat)

 

 

2. Berdiri (bagi yang mampu) Menghadap Kiblat

 

Rasulullah SAW bersabda,

صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, kerjakanlah dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu lagi, maka kerjakanlah dengan tidur menyamping.

Posisi wajah menghadap kiblat dan pandangan mata (jangan memejamkan mata)  menuju tempat sujud.

Posisi badan berdiri tegak dan lurus menghadap kiblat.

Posisi kedua tangan masing-masing lurus (tidak kaku) berada disamping badan hingga paha dengan jari terlepas (tidak mengepal).

Posisi kaki seimbang dengan lebar bahu (tidak terlalu rapat atau lebar) dan (saat berjamaah) ujung tumit semua makmum sejajar sehingga shaf menjadi lurus dan posisi sisi luar kaki dan bahu dirapatkan dengan jemaah yang berada disamping.

 

 

3. Takbiratul ikhram

1 sajada takbir

 

Rasulullah SAW bersabda,

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

“Pembuka shalat adalah thoharoh (bersuci). Yang mengharamkan dari hal-hal di luar shalat adalah ucapan takbir. Sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam.


Mengangkat kedua tangan dengan ujung jari agak setinggi dan didepan posisi telinga dengan kedua telapak tangan menghadap kiblat. Sebagian pendapat lainnya mengangkat tangan dengan ujung jari agak setinggi dan didepan bahu dengan kedua telapak tangan menghadap kiblat.

Boleh mengangkat tangan secara bersamaan mengucapkan Takbir, boleh mengangkat tangan terlebih dahulu baru kemudian mengucapkan takbir, boleh pula mengucapkan takbir terlebih dahulu baru kemudian mengangkat tangan.

Posisi rentang siku kedua tangan terbuka (untuk laki-laki) tidak terlalu sangat lebar dan tidak terlalu rapat, untuk sholat berjamaah disesuaikan dengan menjaga rentang siku agar tidak mengganggu jemaah disebelahnya, khusus wanita posisi rentang siku lebih merapat.

Posisi antar jari saling merapat ada juga yang berpendapat tidak terlalu rapat dan tidak terlalu renggang.

الله أكبر

Allāhu akbar

"Allah Maha Besar"

 

Kemudian posisi tangan dalam keadaan bersidekap, yaitu telapak tangan kanan (selalu berada diatas) memegang pergelangan atau setelah pergelangan tangan kiri. Ada juga yang berpendapat sekedar berada diatasnya (tanpa memegang).

Posisi kedua tangan yang bersidekap berada diantara dada dan perut. Sebagian ulama berpendapat berada di awal dada.

2 sajada alfatihah

 

Kemudian disunahkan Membaca Doa Iftitah,

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْ

Allaahu Akbaru kabiiraw-walhamdu lillaahi katsiiran, wa subhaanallaahi bukrataw-wa’ashiila. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas-samaawaati wal ardha haniifam-muslimaw-wamaa anaa minal musyrikiina. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi Rabbil ‘aalamiina. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiin.

"Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)". 

(Doa iftitah ada beberapa macam, bacaan diatas adalah salah satu yang sering dipakai)

 

4. Membaca Al-fatihah

2 sajada alfatihah

 

Rasulullah SAW bersabda,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada shalat (artinya tidak sah) orang yang tidak membaca Al Fatihah".

 

Dilakukan dalam keadaan berdiri setelah takbiratul Ikhram dengan tangan bersidekap.


Bacaan Surat Al Fatihah


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Bismillahirrahmanirrahim

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"


الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Alhamdulillahi rabbil alamin

"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam"


الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

Arrahmaanirrahiim

"Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"


مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Maaliki yaumiddiin

"Yang menguasai di Hari Pembalasan"


إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Iyyaka nabudu waiyyaaka nastaiin

"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan"


اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Ihdinashirratal mustaqim

"Tunjukilah kami jalan yang lurus"


صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghduubi alaihim waladhaalin

"(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan)
mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat"

 

Setelahnya disunahkan membaca surah Al-Qur'an lainnya. 

 

Khusus saat shalat berjamaah

  • Saat imam membaca Surat Alfatihah, makmum mendengarkan bacaan tersebut (bukan membacanya juga pada saat bersamaan), barulah saat imam melafazkan "Aamiin", makmum melafazkan "Aamiin" secara bersamaan. Kemudian saat Imam membaca surah Al-Qur'an lainnya, barulah makmum membaca Surat Alfatihah.
  • Semua bacaan (kecuali lafaz "Aamiin") dalam shalat berjamaah, makmum melafazkan dengan pelan, yaitu bukan hanya didalam hati, tetapi dibaca dengan sangat pelan yang cukup terdengar oleh telinga masing-masing pembacanya.
  • Makmum dilarang mendahului gerakan imam.

 

 


5. Ruku’ dengan tuma’ninah

3 sajada ruku

 

Rasulullah SAW bersabda,

ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا

“Kemudian ruku’lah dan thuma’ninahlah ketika ruku’.


Dilakukan setelah berdiri dan disunahkan mengucapkan takbir sambil mengangkat kedua tangan sebelum ruku', lalu memulai ruku' dengan posisi membungkukkan badan secara lurus seolah membentuk huruf "L Terbalik" dengan meletakkan telapak tangan memegang persendian lutut dan disunahkan pula membaca,

 

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. (Dibaca 3 kali)

"Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya."

 

Thumna'ninah adalah kondisi memberikan waktu jeda agar sholat dilakukan secara tenang
(tidak terburu-buru)

 

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang pernah mengatakan pada orang yang jelek shalatnya sehingga ia pun disuruh untuk mengulangi shalatnya,

لاَ تَتِمُّ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ … ثُمَّ يُكَبِّرُ فَيَرْكَعُ فَيَضَعُ كَفَّيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ وَتَسْتَرْخِىَ

“Shalat tidaklah sempurna sampai salah seorang di antara kalian menyempurnakan wudhu, …
kemudian bertakbir, lalu melakukan ruku’ dengan meletakkan telapak tangan di lutut sampai
persendian yang ada dalam keadaan thuma’ninah dan tenang.” 

 

6. I’tidal dengan tuma’ninah

4 sajada itidal

 

Rasulullah SAW bersabda,

ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا

“Kemudian tegakkanlah badan (i’tidal) dan thuma’ninalah.

 

Dilakukan setelah ruku' dengan posisi kembali berdiri dengan posisi tangan lurus kebawah, adapula yang melakukan sidekap (agar tangan tidak bergerak-gerak)

Disunahkan untuk mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan,

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

SAMI'ALLAAHU LIMAN HAMIDAH

"Allah mendengar orang yang memuji-Nya"

 


Juga disunahkan setelahnya (masih dalam posisi i'tidal) membaca,

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّموَاتِ وَمِلْءُ اْلاَرْضِ وَمِلْءُمَاشِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ

RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL'UL ARDHI WA MIL 'UMAASYI'TA MIN SYAI'IN
BA'DU.

"Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya".

(Doa i'tidal ada beberapa macam, bacaan diatas adalah salah satu yang sering dipakai)

 

Khusus saat shalat berjamaah

  • Saat setelah imam melafazkan SAMI'ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, disunahkan makmum membaca RABBANAA WALAKAL HAMDU, lebih baik lagi jika dilanjutkan secara lengkap

 

 

7. Sujud dengan tuma’ninah

5 sajada sujud


Rasulullah SAW bersabda,

ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا

“Kemudian sujudlah dan thuma’ninalah ketika sujud".


Dilakukan setelah i'tidal (untuk sujud pertama) dengan posisi sujud dimana ada 7 bagian anggota badan yang menempel pada alas sholat, yaitu (1) Muka (Dahi dan Hidung), (2,3) Kedua telapak tangan, (4,5) Kedua lutut kaki, (6,7) Kedua Ujung kaki (sekitar jari menempel pada alas sholat dan telapak kaki menghadap kebelakang).

Jangan sampai ada benda yang menempel pada kita (rambut, peci, sorban dan sebagainya) yang menghalangi anggota badan yang wajib menempel pada alas sholat, kecuali sudah terlepas (misal peci terjatuh sebelum sujud).

 


Rasulullah SAW bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ

“Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: [1] Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), [2,3] telapak tangan kanan dan kiri, [4,5] lutut kanan dan kiri, dan [6,7] ujung kaki kanan dan kiri. ”


Disunahkan mengucapkan takbir sebelum sujud, lalu saat sujud membaca,

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى

Subhaana rabbiyal a’laa (3 kali)

“Maha Suci Tuhan Yang Maha Tinggi serta memujilah aku kepada-Nya”

 

Posisi rentang siku kedua tangan terbuka (untuk laki-laki) tidak terlalu sangat lebar dan tidak terlalu rapat, untuk sholat berjamaah disesuaikan dengan menjaga rentang siku agar tidak mengganggu jemaah disebelahnya, khusus wanita posisi rentang siku lebih merapat.

Posisi antar jari saling merapat ada juga yang berpendapat tidak terlalu rapat dan tidak terlalu renggang.

 

 


8. Duduk diantara dua sujud dengan tuma’ninah

6 sajada iftiras1 6 sajada iftiras2

 

Rasulullah SAW bersabda,

ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا

“Kemudian sujudlah dan thuma’ninalah ketika sujud. Lalu bangkitlah dari sujud dan
thuma’ninalah ketika duduk. Kemudian sujudlah kembali dan thuma’ninalah ketika sujud.

 

Dilakukan setelah sujud pertama setiap raka'at dengan posisi duduk dimana badan menduduki kedua kaki yang tertekuk kebelakang dan menempel pada alas sholat.

Posisi ujung kaki kiri terduduki oleh badan dan posisi ujung kaki kanan masih seperti posisi saat sujud ,dimana bagian sekitar jari kaki kanan menempel pada alas sholat dan telapak kaki kanan menghadap ke belakang.

Posisi telapak tangan ada diatas paha.

 

Disunahkan mengucapkan takbir sebelum "duduk diantara dua sujud", lalu membaca,

رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَاعْفُ عَنِّيْ

ROBBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA'NII WARZUQNII WAHGDINII WA'AAFINII WA'FU 'ANNII

"Ya Allah,ampunilah dosaku,belas kasihinilah aku dan cukuplah segala kekuranganku dan angkatlah derajatku dan berilah rezeki kepadaku,dan berilah aku petunjuk dan berilah kesehatan padaku dan berilah ampunan kepadaku." 

(Doa duduk diantara dua sujud ada beberapa macam, bacaan diatas adalah salah satu yang sering dipakai)

 

Kemudian diwajibkan melakukan sujud kedua dengan tata cara seperti sujud pertama.

Setelah sujud kedua, berdiri kembali (disunahkan duduk sebentar sebelum berdiri dan membaca takbir saat berdiri).

Mengulangi kembali tahapan-tahapan mulai dari membaca Surat Alfatihah sampai sujud kedua sesuai jumlah raka'at.

Khusus shalat berjamaah, imam tidak lagi mengencangkan suara bacaan Surat Alfatihah setelah rakaat pertama dan kedua) 

 

 

9. Duduk tasyahud (tahiyat) akhir

6 sajada iftiras4 6 sajada iftiras3

 

Rasulullah SAW bersabda,

...فَإِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فِى الصَّلاَةِ فَلْيَقُلِ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ

“Jika salah seorang antara kalian duduk (tasyahud) dalam shalat, maka ucapkanlah “attahiyatu lillah …”

 

Dilakukan setelah sujud terakhir dengan posisi duduk dimana ujung kaki kiri diselipkan dibawah ujung kaki kanan yang masih dalam posisi seperti posisi kaki kanan saat sujud dan "duduk diantara dua sujud".

Badan agak condong kearah kanan dan telunjuk tangan kanan akan dalam posisi menunjuk kedepan. (Ada beberapa pendapat mengenai kapan waktu menunjuk dan 'posisi atau gerakan' jari tersebut)

Mazhab Syafi'i, telunjuk kanan akan dalam posisi menunjuk pada saat syahadat dimana jari hanya menunjuk tanpa ada pergerakan lain. Disunahkan mengucapkan takbir sebelum duduk tasyahud.

 

Khusus untuk sholat yang lebih dari 2 raka'at lakukan duduk tasyahud (tahiyat) awal terlebih dahulu pada raka'at kedua, dengan tata cara :

  • Posisi duduk sama seperti  posisi duduk diantara dua sujud ditambah gerakan jari kanan menunjuk
  • Membaca bacaan seperti saat duduk tasyahut akhir.
  • Kemudian berdiri kembali melanjutkan raka'at.

 

10. Membaca tasyahud akhir pada saat duduk tasyahud akhir

6 sajada iftiras4 6 sajada iftiras3

 

Bacaan tasyahud akhir (juga dibaca jika ada tasyahud awal),

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِاللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهُ

ATTAHIYYAATUL MUBAAROKAATUSH SHOLAWAATUT TOYYIBAATULILLAAH ASSALAAMU'ALAIKA AYYUHAN
NABIYYU WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUHU ASSALAAMU'ALAINAA WA 'ALAA 'IBAADIL-LAAHISH-
SHOOLIHIINA. ASYHADU ANLAA ILAAHA IL-LALLOOH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR ROSUULULLAAH.

Segala penghormatan yang berkat solat yang baik adalah untuk Allah. Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkatannya. Sejahtera ke atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang soleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah. 

 

 


11. Membaca shalawat Nabi pada saat duduk tasyahud akhir

6 sajada iftiras4 6 sajada iftiras3

 

Bacaan shalawat Nabi (hanya untuk tasyahud akhir),

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَرَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

ALLOOHUMMA SHOLLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA 'ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMADIN. KAMAA
SHOL-LAITA 'ALAA SAYYIDINAA IBROOHIIMA WA 'ALAA AALI SAYYIDINAA IBROOHIIMA WABAARIK 'ALAA
SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA 'ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMADIN KAMAA BAAROKTA 'ALAA SAYYIDINAA
IBROOHIIMA WA 'ALAA AALI SAYYIDINAA IBROOHIIMA FIL 'AALAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIID

Ya Tuhan kami, selawatkanlah ke atas Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya. Sebagaimana Engkau selawatkan ke atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim. Berkatilah ke atas Muhammad dan atas keluarganya sebagaimana Engkau berkati ke atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim di dalam alam ini. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. 

 

 


12. Mengucapkan Salam yang pertama.

6 sajada iftiras5

 

Rasulullah SAW bersabda,

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

“Pembuka shalat adalah thoharoh (bersuci). Yang mengharamkan dari hal-hal di luar shalat
adalah ucapan takbir. Sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam.

 

Dilakukan saat masih dalam posisi duduk tasyahud akhir setelah membaca shalawat Nabi,
wajah menoleh kearah kanan sambil mengucapkan,

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

ASSALAAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI (WABAROKAATUH)

Semoga keselamatan, rohmat dan berkah ALLAH selalu tercurah untuk kamu sekalian.

Disunahkan untuk mengulangi hal yang sama ke arah sebelah kiri. 



13. Tertib (melakukan rukun secara berurutan)

 

 

Wallahu a’lam bish-shawab

SAJADA Media Islam Inspiratif


BERITA

Jangan Menunggu Ekonomi Syariah Dikuasai Non Muslim

 

Jangan Menunggu Ekonomi Syariah Dikuasai Non Muslim

Tak cuma negara-negara berpenduduk muslim, perkembangan ekonomi syariah, rupanya juga menjamur di negara-negara Eropa. Ini terjadi saat krisis global. Tidak ada satu pun sektor yang bisa menghindari krisis global, akan tetapi keuangan syariah menunjukan ketahanan yang sangat luar biasa. Hal ini pun memicu ketertarikan negara Barat lainnya terhadap konsep ekonomi Islam, seperti Perancis, Jerman, dan Italia yang pada akhirnya juga mengadopsi sistem ini.

Tabligh Akbar Politik Islam - Subuh Berjama'ah di Masjid Al Azhar

Semenjak bergulirnya masalah "Penistaan Al qur'an", terlepas dari masalah itu sendiri, rupanya membawa dampak positif, yaitu merekatnya kembali ukhuwah Islamiyah. 

Akankah ukhuwah Islamiah akan tetap terjaga setelah Kemenangan?


Akankah ukhuwah Islamiah akan tetap terjaga setelah Kemenangan?

Umar Bin Khattab berkata, “Sesungguhnya setelah ada kesempurnaan itu hanyalah ada kekurangan.” Jika ukhuwah islamiyah ini merupakan tanda kemenangan, maka yang pantas dikuatirkan adalah saatnya kemunduran.

Peduli Masyarakat Sekitar, AXA Mandiri dan BAZNAS Salurkan Paket Ramadhan Bahagia

 

Pada tahun 2015 AXA Mandiri telah menyediakan perlindungan asuransi syariah melalui lebih dari 20 ribu polis asuransi dan pada tahun 2016 meningkat menjadi lebih dari 33 ribu polis asuransi syariah. 

Koreksi Terhadap Pandangan Mainstream Tentang Sejarah Islam Di Indonesia

 

Koreksi Terhadap Pandangan Mainstream Tentang Sejarah Islam Di Indonesia

Padahal sejak abad ke 6, agama Islam telah berdampingan bersama agama Hindu & agama Budha di Nusantara telah ada kerajaan-kerajaan Islam jauh sebelum kerajaan Majapahit.

TAUSIAH

Abdullah Gymnastiar

Yan Gymnastiar atau lebih dikenal sebagai Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym adalah seorang pendakwah, penulis buku, pengusaha dan pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid di Jalan Gegerkalong Girang, Bandung.

Doa Sebelum Makan & Sesudah Makan

Allahuma Baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa 'adzaa bannaar.


Alhamdulillahilladzii ath'amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa muslimin.

Turnamen Nasional Panahan Tradisional Horsebow Daarul Qur'an 4 Juni 2017

Turnamen Nasional Panahan Tradisional Horsebow Daarul Qur'an 4 Juni 2017

Doa Sebelum (Niat) dan Sesudah Wudhu

Nawaitul wudhuu-a liraf’ll hadatsil ashghari fardhal lilaaffi ta’aalaa

Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardu karena Allah semata

Diskusi Kedai Kopi 2 (Agama?)

"Selanjutnya kami akan mencari panduan, karena menurut akal kami, kami adalah produk luar biasa yang tidak diciptakan kecuali untuk tujuan yang Dia mau, setelah kami menemukan panduan yang menurut akal benar-benar merupakan panduan otentik dari pencipta kami, maka kami melaksanakan panduan tersebut."

BELAJAR ISLAM

Pembagian Hukum Fiqih Ibadah

Ibadat dalam ilmu fiqih terbagi atas 5 bab, yaitu Thaharah, sholat, puasa, zakat dan haji

Sholat Fardhu 5 Waktu

Sholat Fardhu (Sholat 5 Waktu) adalah kewajiban medirikan sholat sebanyak lima kali dalam satu hari diwaktu yang telah ditentukan bagi setiap muslim, baik laki laki maupun perempuan. Sholat Fardhu (Sholat 5 Waktu) merupakan rukun kedua dari 'Rukun Islam'.

Mengenal Jenis dan Sejarah Hadist

 

Mengenal Jenis dan Sejarah Hadist

Pada masa awal Rasulullah melarang penulisan hadits agar tidak tercampur dengan periwayatan Al Qur'an. Setelah beberapa waktu, Rasulullah memperbolehkan penulisan hadits dari beberapa orang sahabat.

Rukun Sholat

Rukun Shalat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan membentuk hakikat shalat. Jika salah satu rukun ini tidak ada, maka shalat pun tidak sah.

Sumber Ilmu Fiqih

Sumber fiqih adalah dalil-dalil yang dijadikan oleh syariat sebagai hujjah dalam pengambilan hukum. Dalil-dalil ini sebagian disepakati oleh ulama sebagai sumber hukum, seperti Al Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Sebagian besar ulama juga menetapkan Qiyas sebagai sumber hukum ke empat setelah tiga sumber di atas