sajada hasyim asyari

 

KH. Hasyim Asy'ari

Profil

KH. Hasyim Asy'ari adalah anak dari Kyai Asy'sari yang merupakan pimpinan dari pesantren di Keras Jombang. Sedangkan Ibunya adalah Halimah yang merupakan keturunan Joko Tingkir (Sultan Pajang).

Saat usia 15 tahun, Hasyim Asy'ari menuntut ilmu di pondok Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian dilanjutkan ke Pondok Pesantren Trenggilis, Semarang, lalu ke Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah bimbingan Syaikh Kholil Bangkalan, Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang dan di Pesantren Siwalan di Sidoarjo. Di bawah asuhan Kyai Ya'qub di Sidoarjo inilah nampaknya Hasyim Asy'arie muda menemukan kecocokan dalam menempuh pendidikan Agama Islam.

Di Pesantren Siwalan di Sidoarjo ini beliau menikah dengan salah seorang putri Kyainya yang bernama Chadijah. Setelah menikah, lalau KH. Hasyim Asy'arie kemudian pergi ke Mekkah bersama istri untuk menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan kemudian beliau kembali ke tanah air setelah istri dan anaknya meninggal dunia.

Tak lama di tanah air, Hasyim Asy'arie kemudian memutuskan untuk kembali ke Mekkah dan menetap di sana selama kurang lebih tujuh tahun. Di Mekkah beliau banyak berguru ke ulama-ulama besar baik dari Mekkah sendiri maupun ulama Indonesia yang menetap di Mekkah. Beberapa guru KH. Hasyim Asy'ari diantaranya adalah Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi.

 

KH. Hasyim Asy'arie Mengajar Di Pesantren

Sepulang dari Mekkah, KH. Hasyim Asy'ari kemudian mulai mengajar di pesantren. Beliau mengajar di pesantren kakeknya yaitu Kyai Usman. Kemudian pada tahun 1899 Kyai Hasyim kemudian membeli sebidang tanag di Dukuh Tebuireng.

Di sebidang tanah tersebut kemudian Kyai Hasyim mendirikan sebuah bangunan berupa bambu atau dalam bahasa Jawa tratak namanya. Bangunan tersebut digunakan sebagai tempat tinggal, di tratak bagian depan, digunakan KH. Hasyim Asy'ari untuk mengajar dan untuk sholat berjamaah.

Sedangkan tratak bagian belakang digunakan sebagai tempat tinggal beliau. Pada awalnya, santri beliau hanya berjumlah 8 orang, selang tiga bulan kemudian bertambah menjadi 28 orang.

Setelah mengembangkan pesantren dan mengajarkan agama Islam di Tebuireng selama dua tahun, kembali KH. Hasyim Asy'arie kehilangan istri tercintanya Nyai Khodijah. Sepeninggalh Chodijah, KH. Hasyim Asy'ari kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh yang merupakan putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Sewulan Madiun.

Dari pernikahan dengan Nyai Nafiqoh ini, Kyai Hasyim dikaruniai beberapa anak yaitu Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim (Abdul Kholik), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashuroh dan Muhammad Yusuf.

Kyai Hasyim Asy'ari merupakan Kyai yang sangat cemerlang dalam keilmuan Islam. Keilmuan beliau yang paling terkenal adalah kemampuannya dalam bidang ilmu hadith. Bahkan guru beliau sendiri yaitu Syaikh Kholil Bangkalan juga berguru kepada beliau.

Syaikh Kholil Bangkalan mengakui keilmuan KH. Hasim Asy'arie dan kemudian beliau memutuskan untuk mengaji kepada muridnya tersebut.


Hubungan KH. Hasyim Asy'ari Dengan KH. Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah

KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Ahmad Dahlan adalah sama-sama murid dari Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabau.

Perlu dipahami bahwa ketika beliau berdua nyantri di Mekkah terjadi pembaharuan yang luar biasa dari Muhammad Abduh dengan pemikirannya.

Tentu pemikran baru ini juga menarik bagi para pelajar dari Indonesia termasuk juga KH. Hasyim Asy'ari dan juga KH. Ahmad Dahlan.

Dari sini kemudian ada beberapa santri dari Indonesia yang membawa ideologi dari Muhammad Abduh ke Indonesia dengan pembaharuannya yang salah satunya adalah KH. Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah.

 

Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) dibentuk pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri" (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar).

Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Berangkat dari munculnya berbagai macam komite dan organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, karena tidak terakomodir kyai dari kalangan tradisional untuk mengikuti konperensi Islam Dunia yang ada di Indonesia dan Timur Tengah akhirnya muncul kesepakatan dari para ulama pesantren untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926) di Kota Surabaya. Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasjim Asy'ari sebagai Rais Akbar.

Ada banyak faktor yang melatar belakangi berdirinya NU. Di antara faktor itu adalah perkembangan dan pembaharuan pemikiran Islam yang menghendaki pelarangan segala bentuk amaliah kaum Sunni. Sebuah pemikiran agar umat Islam kembali pada ajaran Islam "murni", yaitu dengan cara umat islam melepaskan diri dari sistem bermadzhab. Bagi para kiai pesantren, pembaruan pemikiran keagamaan sejatinya tetap merupakan suatu keniscayaan, namun tetap tidak dengan meninggalkan tradisi keilmuan para ulama terdahulu yang masih relevan. Untuk itu, Jam'iyah Nahdlatul Ulama cukup mendesak untuk segera didirikan.

Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasjim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu sumber hukum Islam bagi NU tidak hanya al-Qur'an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur Al Maturidi dalam bidang teologi/ Tauhid/ketuhanan. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: Imam Syafi'i dan mengakui tiga madzhab yang lain: Imam Hanafi, Imam Maliki,dan Imam Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Syeikh Juneid al-Bagdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Gagasan kembali kekhittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.


Biodata KH. Hasyim Asy’arie
Lahir : 10 April 1875
Kota : Kabupaten Demak, Jawa Tengah
Meninggal : 7 September 1947
Kota : Jombang, Jawa Timur
Dikenal karena : Pendiri Nahdlatul Ulama
dan Pahlawan Nasional
Gelar : Hadratusy Syaikh
Pengganti : K.H. A. Wahab Hasbullah
Agama : Islam
Pasangan : Nyai Chodijah, Nyai Nafiqoh, Nyai Masruroh
Anak : Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim (Abdul Kholiq), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurroh, Muhammad Yusuf

 

SAJADA Media Islam Inspiratif

 


BELAJAR ALQUR'AN

 

BERITA

Tantangan Ekonomi Syariah

 

Indonesia adalah negeri dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Potensi ini seharusnya tidak menjadikan Indonesia, hanya kembali menjadi sasaran target pasar. 

Pertemuan (Multaqa) Ulama dan Da'i se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa ke-V di Jakarta

 

Pertemuan (Multaqa) Ulama dan Da'i se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa ke-V telah berlangsung (03/07/2018) dan ditutup (03/07/2018) di Grand Hotel Jakarta.

Masa Depan Rusia Akan Menjadi Milik Pemeluk Islam

 

Saksikanlah, barisan jutaan umat manusia yang beribadah dengan sangat teratur dan mengikuti shaf mereka masing-masing, dan hal itu tidak perlu diajarkan. Mereka berbaris dengan tertib tanpa harus diperintah.

Lembaga Keuangan Syariah

 

Sistem Keuangan syariah adalah suatu sistem keuangan, seperti perbankan, asuransi dan sebagainya yang pelaksanaannya dilakukan berdasarkan hukum Islam (syariah).  

RA. Kartini, Tafsir Al Qur'an dan KH. Saleh Darat

 

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?"

TAUSIAH

Muhammad Rizieq Shihab

 

Muhammad Rizieq Shihab Habib Rizieq meneruskan studinya di Universitas Raja Saud, Arab Saudi, yang diselesaikan dalam waktu empat tahun dengan predikat cum-laude.

Hijab Fashion Parade

 

Hijab Fashion Parade
Kamis, 15 Juni 2017
Hotel Sari Pan Pasific, Istana Ballroom. Jakarta 

Mereka Yang Didoakan Oleh Para Malaikat

 

Malaikat pun senantiasa mendoakan manusia, sehingga atas kedudukannya yang mulia, tentunya kita pun berharap menjadi termasuk manusia yang didoakan oleh para malaikat.

Sarung

 

Catatan kali ini bercerita tentang sebuah benda yang sangat terkenal. Biasa dipakai oleh kaum laki-laki dewasa untuk menghalau angin malam saat ronda, sebagai pelindung dari gigitan nyamuk saat tidur.

Roadshow Seminar Asuransi Syariah 2017 - Batch III

 

Masyarakat Ekonomi Syariah Menyelenggarakan Seminar Asuransi Syariah 

BELAJAR ISLAM

Syarat Awal Memeluk Agama Islam

Dengan menyatakan Dua Kalimat Syahadat, insya Allah orang tersebut sudah termasuk sebagai seorang muslim (untuk laki-laki) atau muslimah (untuk wanita). Kesaksian ini sebaiknya disaksikan dan dibimbing oleh beberapa orang muslim yang memiliki pengetahuan agama islam yang baik agar orang tersebut mendapat tuntunan.

KH. Hasyim Asy'ari

 

Hasyim Asy'arie kemudian memutuskan untuk kembali ke Mekkah dan menetap di sana selama kurang lebih tujuh tahun. Di Mekkah beliau banyak berguru ke ulama-ulama besar baik dari Mekkah sendiri maupun ulama Indonesia. 

Rukun Iman

Rukun Iman adalah hal-hal yang disyaratkan atau harus dipenuhi untuk menjadi seorang dapat dikatakan beriman. Iman sering diartikan dengan percaya atau secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan).

Sholat Fardhu 5 Waktu

 

Sholat Fardhu (Sholat 5 Waktu) adalah kewajiban medirikan sholat sebanyak lima kali dalam satu hari diwaktu yang telah ditentukan bagi setiap muslim, baik laki laki maupun perempuan. Sholat Fardhu (Sholat 5 Waktu) merupakan rukun kedua dari 'Rukun Islam'. 

Tanda Baca (Harakat)

 

Harakat (Arab: حركات, dibaca harakaat) digunakan untuk mempermudah cara melapazkan huruf dalam tiap ayat Al Quran.