Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Tetapi rupanya kesadaran untuk menerapkan syariah islam dalam kehidupan sehari-hari, ghirahnya baru terlihat pada belakangan ini.

Patokan umum yang biasa dipakai untuk menakar kuantitas kesungguhan umat muslim dalam berislam adalah sholat subuh berjamaah. Saat ini kampanye sholat subuh berjamaah ramai digaungkan oleh para pejuang subuh, mulai dari para pengurus masjid hingga para pejabat publik yang telah banyak diisi oleh kalangan muslim yang mau memperjuangkan kebangkitan Islam, mulai terlihat perkembangannya.

Banyak pula sinyal-sinyal lain yang juga bisa dijadikan penanda meningkatnya kesadaran umat muslim di Indonesia dalam berislam, seperti meningkatnya kesadaran para wanita menggunakan hijab, kesadaran untuk mengurangi ketergantungan hingga meninggalkan praktek riba, selektif dalam memilih produk yang halal, bahkan hingga ke urusan politik dalam memilih pemimpin. Yang tadinya tuntutannya hanya sekedar pemimpin muslim, kini umat muslim di Indonesia ingin pemimpin muslim yang juga secara nyata memperjuangkan Islam.


Tantangan Demand Ekonomi Syariah

Mencermati fenomena umat muslim Indonesia yang tengah meningkat kesadaran beragamanya, hal ini rupanya menciptakan demand nuansa islami pada sektor ekonomi. Jika awalnya sentuhan syariah baru menyentuh pada urusan perbankan, belakangan ini mulai menyentuh pada bidang-bidang lain di perekonomian.

Hal ini sejalan dengan pernyataan oleh Ketua Umum MUI KH. Ma'ruf Amin, "Tidak hanya perkembangan keuangan syariah yang harus dicapai, namun juga laju perekonomian syariah mesti pula didongkrak. (6/2/2018).

Dalam bidang keuangan, setelah menjamurnya bank-bank syariah, kini telah hadir jasa keuangan sektor pembayaran berbasis aplikasi yang dipimpin Ustadz Yusuf Mansur, yaitu Paytren yang telah mendapat sertifikasi syariah dari MUI dan izin dari OJK. Kehadiran Paytren ditengah maraknya serbuan Fintech, merupakan langkah inspiratif untuk menggenjot kehadiran berbagai peran bisnis bernafas syariah dalam kancah ekonomi modern.

Dalam bidang ekonomi selain sektor keuangan, tampaknya tantangan demand syariah pun mulai melahirkan bisnis perumahan, hotel, wisata, kuliner, sekolah dan sebagainya yang ditempel dengan kata syariah atau islami. Fenomena ini bahkan mendorong pakar marketing Indonesia, Hermawan Kertajaya (non muslim) untuk berbicara tentang keunggulan bisnis syariah dalam seminarnya dan menulis buku bersama M. Syakir berjudul Syariah Marketing. Keunggulan bisnis syariah membuat pakar ekonomi Indonesia, sekaligus pakar ekonomi syariah mengatakan “Spiritual is the Soul of Advance and Integrated Marketing”.


Perkembangan Ekonomi Syariah Indonesia Tertinggal

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, rupanya Indonesia sudah tertinggal dibandingkan negara-negara lain yang mempunyai banyak penduduk muslim, seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Malaysia, bahkan Singapura.

Tak cuma negara-negara berpenduduk muslim, perkembangan ekonomi syariah, rupanya juga menjamur di negara-negara Eropa. Ini terjadi saat krisis global. Tidak ada satu pun sektor yang bisa menghindari krisis global, akan tetapi keuangan syariah menunjukan ketahanan yang sangat luar biasa. Hal ini pun memicu ketertarikan negara Barat lainnya terhadap konsep ekonomi Islam, seperti Perancis, Jerman, dan Italia yang pada akhirnya juga mengadopsi sistem ini.

Inggris, meskipun bukan negara muslim, tetapi menjadi negara termaju dalam menerapkan ekonomi syariah di Eropa. Sejak awal perekonomian Inggris memang didasari kesejahteraan sosial yang dipadukan dengan pasar bebas. Alasan itulah yang membuat Inggris merasa cocok dengan sistem ekonomi syariah.

Hal ini bahkan sudah berkembang sejak lama, Menurut MS Hidayat, Ketua Umum Kadin Indinesia (Mei,2009), "Ketertarikan negara-negara Eropa terhadap ekonomi syariah, sebetulnya sudah lama terungkap melalui pernyataan Gordon Brwon saat masih menajdi menteri keuangan tahun 2007, bahwa Inggris siap menjadi pusat keuangan syariah dunia." ketertarikan ini akhirnya terbukti dengan Inggris menjadi negara barat dengan bank syariah terbanyak berkat dukungan pemerintah, menurut laporan international Financial Services London (IFSL).

Kemudian dalam perkembangannya, pada 2017, perusahaan Fintech Islam berbasis di London, Yielder telah menjadi perusahaan pertama yang mendapat persetujuan di Inggris.

 

Umat Islam Indonesia Jangan Cuma Jadi Target Pasar

Berdasarkan perkembangan ekonomi syariah di negara-negara Eropa, rupanya religion brand yang seharusnya memiliki pangsa pasar segmented, kini telah menjadi demand yang dibutuhkan oleh semua orang, bukan saja oleh umat Islam.

Jika masyarakat non muslim saja ingin mengadopsi ekonomi syariah, tentunya seharusnya kebutuhan ekonomi syariah di Indonesia harusnya lebih pesat, mengingat Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak didunia.

Tentunya harapan kita, sejalan dengan mulai berkembangnya demand ekonomi syariah, umat muslim di Indonesia jangan cuma jadi target pasar dari ekonomi syariah yang nantinya dilirik oleh pemain-pemain kuat bisnis non muslim. Jika itu terjadi maka pada akhirnya yang mendapat manfaat ekonomi terbesar adalah para pengusaha non muslim, yang tentunya keuntungan tersebut tidak akan kembali ke umat, melaui zakat sebagaimana kewajiban umat muslim. Dan sangat tidak mungkin keuntungan ekonomi itu juga disisihkan untuk kemajuan Islam.

Sebagaimana yang kita ketahui,  pada sektor perbankan, telah banyak Bank-bank konvensional terkenal yang menjalankan parktik riba tetapi juga menduplikasi dirinya menjadi Bank Syariah. Bukannya tidak mungkin dengan kekuatan modal yang besar para pengusaha non muslim pun akan menjalankan bisnis-bisnis label syariah atau islami, mengingat akan semakin besarnya permintaan akan kebutuhan tersebut.

Inilah tantangan yang harus dijawab pengusaha-pengusaha muslim Indonesia yang hidup di negara dengan penduduk muslim terbanyak didunia.

  

Wallahu a’lam bish-shawab

SAJADA Media Islam Inspiratif 

Belajar Bisnis Online di trendingbisnis.com

Temukan di Google Play Book Buku Penting Untuk Semua Pebisnis

Era Bisnis Online - Anak Muda vs Raksasa Bisnis